Generasi Emas Berawal Dari Posyandu

September 30, 2020

Satu dari tiga anak di Indonesia mengalami stunting.Kita bisa menyelamatkan tiga anak dari kerusakan otak permanen, mengatasi tujuh dari sepuluh kasus penyakit yang bisa dicegah, dan memutus siklus kemiskinan. Namun, ini tidak akan terwujud tanpa peningkatan kualitas posyandu yang berperan menjadi pusat perubahan.

Angka stunting di Indonesia turun sebesar 7% dalam lima tahun terakhir, tetapi masih banyak yang harus dikerjakan. Sehubungan dengan hal tersebut, posyandu berperan besar, terutama terkait gagal tumbuh.

Posyandu berdiri sejak 1986, adanya desentralisasi cukup membuat kebingungan. Sampai hari ini pemerintah pusat bertanggung jawab atas pengadaan vaksin dan pemerintah daerah dalam pelayanannya, termasuk mendanai biaya operasional imunisasi Posyandu. Pencarian anggaran tahunan Posyandu tidak berhasil, meskipun ada informasi bahwa setiap unit Posyandu memerlukan kira-kira Rp 600 ribu per tahun. Tanpa menginvestasikan dana di Posyandu, Indonesia akan mengalami kesulitan untuk berinvestasi dalam pembangunan SDM masa depan.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 289.635 Posyandu yang melayani 82.190 desa, atau sekitar tiga setengah Posyandu per desa. Anak-anak yang ikut serta dalam program kesehatan dan gizi anak di Posyandu tahun 1980-an dan 1990-an memiliki kemungkinan 19-25 persen mengalami gagal tumbuh (stunting) atau kekurangan berat badan (Wai-Poi, 2011).

Menurut laporan Bank Dunia di 22 provinsi yang diterbitkan di 2016, hanya setengah dari Posyandu di Indonesia yang mengkalibrasi timbangannya. Ketersediaan alat ukur tinggi badan di Posyandu belum 100 persen, seperti papan panjang badan hanya 30 persen dan strature meter 67 persen, padahal alat ukur memiliki peran penting dalam diagnosa stunting. Lebih menyedihkannya, hanya sekitar 50 persen Posyandu yang melakukan penyuluhan kebersihan dan sanitasi. Lebih dari tiga perempat dari seluruh anak Indonesia yang divaksinasi, menerima imunisasi mereka di Posyandu.

Bukan hanya itu, Posyandu seharusnya menjadi garis depan tentang pertumbuhan anak dan pusat konseling primer. Posyandu menjadi tempat pengukuran tinggi badan anak, tempat
imunisasi sehingga di sini lah Ibu dapat belajar lebih detail mengenai menyusui, pola makan anak dan lainnya. Namun, mayoritas kader Posyandu belum fasih dalam pengisian dan menginterpretasikan hasil bacaan Kartu Menuju Sehat (KMS) dan memberikan konseling kepada pengasuh. Dari hampir 300.000 Posyandu di Indonesia, lebih dari setengahnya tidak berfungsi sesuai harapan

Langkah awal dari menyelamatkan dua juta anak harus dimulai dari Posyandu dan keberhasilan ini bisa dicapai jika dilakukan bersama. Mari kita berusaha untuk menyelamatkan generasi selanjutnya dari stunting dengan mengalokasikan uang minum kopi beberapa minggu dalam setahun, dan menggunakan uang tersebut untuk pelatihan kader dan dukungan untuk posyandu. [Sisi]

Watch 1000 Days Funds

Download Our Toolkits

searchenvelope-ovideo-cameracloud-downloadyoutube-squareinstagram